USMI IPB” ILKOM’S GROUP”

Just another WordPress.com weblog

efek rumah kaca

Rumah kaca

Rumah kaca (atau rumah hijau) adalah sebuah bangunan di mana tanaman dibudidayakan. Sebuah rumah kaca terbuat dari gelas atau plastik; Dia menjadi panas karena radiasi elektromagnetik yang datang dari matahari memanaskan tumbuhan, tanah, dan barang lainnya di dalam bangunan ini.

Kaca yang digunakan untuk rumah kerja bekerja sebagai medium transmisi yang dapat memilih frekuensi spektral yang berbeda-beda, dan efeknya adalah untuk menangkap energi di dalam rumah kaca, yang memanaskan tumbuhan dan tanah di dalamnya yang juga memanaskan udara dekat tanah dan udara ini dicegah naik ke atas dan mengalir keluar. Oleh karena itu rumah kaca bekerja dengan menangkap radiasi elektromagnetik dan mencegah konveksi. Lihat rumah kaca surya (teknikal) untuk diskusi teknikal bagaimana rumah kaca surya bekerja.Rumah kaca sering kali digunakan untuk mengembangkan bunga, buah dan tanaman tembakau. Lebah bumble adalah polinator pilihan untuk banyak polinasi rumah kaca, meskipun tipe lebah lain juga digunakan, dan juga polinasi buatan.Selain tembakau, banyak sayuran dan bunga juga dikembangkan di rumah kaca pada akhir musim dingin atau awal musim semi, yang kemudian dipindahkan ke luar begitu cuaca menjadi hangat.

Ruangan yang tertutup dari rumah kaca mempunyai kebutuhan yang unik, dibandingkan dengan produksi luar ruangan. Hama dan penyakit, dan panas tinggi dan kelembaban, harus dikontrol, dan irigasi dibutuhkan untuk menyediakan air.

Rumah kaca menjadi penting dalam penyediaan makanan di negara garis lintang tinggi. Kompleks rumah kaca terbesar di dunia terletak di Leamington, Ontario (dekat tempat paling selatan Kanada) di mana sekitar 200 “acre” (0.8 km²) tomat dikembangkan dalam gelas.

Rumah kaca melindungi tanaman dari panas dan dingin yang berlebihan, melindungi tanaman dari badai debu dan “blizzard”, dan menolong mencegah hama. Pengontrolan cahaya dan suhu dapat mengubah tanah tak subur menjadi subur. Rumah kaca dapat memberikan negara kelaparan persediaan bahan makanan, di mana tanaman tak dapat tumbuh karena keganasan lingkungan. Hidroponik dapat digunakan dalam rumah kaca untuk menggunakan ruang secara efektif.

Menghindari Efek

……..

Rumah Kaca

Dengan mengontrol jumlah emisi gas buangan dari bahan bakar fosil yang kita pakai, kita mungkin sekali dapat menunda terjadinya zaman es baru, Demikian hasil dari penelitian baru yang dilakukan oleh Institut Niels Bohr di Universitas Copenhagen. Dari perspektif sejarah bumi, kita hidup di jaman yang dingin. Tantangan iklim terbesar yang dihadapi oleh umat manusia ialah bertahan hidup di jaman es yang mendominasi iklim selama sejuta tahun terakhir.Oleh karena itu, tidak mengejutkan apabila klimatologis terkenal Rusia era 1970-an Mikhail Budyko, menyambut pemanasan global buatan manusia yang disebabkan oleh emisi gas CO2 sebagai hal yang baik karena akan semakin menjauhkan kita dari kedatangan jaman es berikutnya. Dan masih ada beberapa orang yang menganggap pengeluaran emisi gas buangan bahan bakar fosil yang tinggi dan terus menerus baik untuk alasan ini.

Tetapi apakah pemanasan global yang ekstrim ini, pantas dan memang diperlukan, sebandingkah dengan harga yang harus dibayar untuk mencegah terjadinya jaman es baru? Pada laporan hasil penelitian oleh Profesor Gary Shaffer dari Institut Niels Bohr, Universitas Copenhagen, yang juga kepala penelitian di Danish Center for Earth System Science (DCESS), menggaris-bawahi suatu cara baru untuh mencegah bumi menjadi rumah kaca yang panas – dan rumah es untuk setengah juta tahun mendatang.

Terbentuknya tudung es

Jaman es dimulai ketika pada musim dingin di bagian garis lintang utara turun salju yang lama sampai sepanjang musim panas sehingga akumulasi saljunya cukup untuk membentuk lapisan-lapisan es baru.Kondisi seperti ini utamanya tergantung pada radiasi matahari musim panas dan konsentrasi CO2 di atmosfer. Radiasi ini diatur dalam skala rentang waktu antara 20.000, 40.000 dan 100.000 tahun oleh perubahan orbit dan orientasi bumi.Radiasi matahari musim panas yang kritis yang diperlukan untuk memulai perkembangan tudung es secara signifikan dapat lebih rendah pada atmosfer dengan kadar CO2 yang lebih tinggi dengan efek pemanasan rumah kaca.

Profesor Shaffer membuat proyeksi panjang 500.000 tahun lebih ke depan dengan memakai DCESS Earth System Model untuk menghitung evolusi atmosfer CO2 pada emisi gas buangan bahan bakar fosil yang berbeda. Dia juga menggunakan hasil dari coupled-ice sheet model untuk atmosfer yang mengandung CO2 pada radiasi matahari musim panas yang kritis di garis lintang utara untuk perkiraan jaman es.Hasilnya menunjukkan pemanasan global di atas hampir 5 derajat Celsius akan menciptakan skenario “business as usual” (tampak seperti biasa) dimana 5000 milliar ton bahan bakar karbon fosil yang dapat kita gunakan semua untuk beberapa abad ke depan. Pada skenario ini, terjadinya jaman es dapat ditunda sampai 170.000 tahun dari sekarang.

Karbon dapat menunda datangnya jaman es

Akan tetapi, untuk skenario manajemen dimana pemakaian bahan bakar fosil dikurangi secara global sampai 20% pada 2020 dan 60% pada 2050 (dibandingkan dengan tingkat pada 1990), pemanasan global maksimum lebih rendah 1 derajat celcius daripada saat ini. Pengurangan penggunaan bahan bakar fosil yang sama juga telah diajukan oleh beberapa negara lain seperti Jerman dan Inggris.Pada skenario ini, pembakaran dari sejumlah besar cadangan bahan bakar fosil yang kemudian disesuaikan untuk meningkatkan kadar CO2 di atmosfer, cukup lama untuk menangkal pembentukan jaman es dengan radiasi musim panas minimal selama mungkin. Dengan jalan ini iklim interglasial kita akan diperpanjang hingga 500.000 tahun, 3 kali lebih lama daripada kasus “business as usual”.

Pengaturan iklim yang berharga

“Sepertinya dapat dikatakan bahwa jaman es dahsyat yang dialami bumi lebih dari sejuta tahun yang lalu, telah disebabkan oleh penurunan tingkat CO2 di atmosfer.Tingkat kandungan CO2 pada atmosfer kita saat ini sekitar 385 bagian per sejuta sudah lebih tinggi daripada sebelum masa transisi ke jaman es ini.Profesor Shaffer juga menambahkan, “Orbit bumi yang nyaris sirkuler saat ini menandakan radiasi musim panas minimum pada lintang utara tidak terlalu dalam. Kita telah cukup meningkatkan kadar CO2 di atmosfer untuk mencegah kita dari datangnya jaman es paling tidak selama 55.000 tahun ke depan.”Profesor Shaffer juga menyimpulkan bahwa, “cadangan bahan bakar fosil mungkin terlalu berharga untuk mengatur iklim jauh ke masa depan yang mengharuskan kita memakai cadangan itu untuk dipakai selama beberapa abad ke depan.Harga dari pemanasan global untuk menghindari jaman es itu terlalu tinggi dan sungguh tidak seharusnya dikorbankan. (Sciencedaily/den)

meita

meita

Ketika Bumi menerima panas dari matahari, secara alami sebagian panas akan terperangkap di atmosfer akibat adanya beberapa jenis gas. Gas-gas yang menangkap panas tersebut dikenal sebagai gas rumah kaca (GRK) karena cara kerjanya mirip rumah kaca (greenhouse) di mana suhu di dalamnya diatur agar cukup hangat sehingga tanaman dapat tumbuh. Terperangkapnya panas oleh gas-gas di atmosfer dikenal dengan istilah ‘efek rumah kaca’.Sebenarnya efek rumah kaca merupakan proses alami yang diperlukan agar permukaan bumi cukup hangat untuk didiami. Sayangnya, aktivitas manusia mengganggu kondisi alami dan membuat konsentrasi GRK semakin tinggi sehingga panas yang terperangkap di atmosfer semakin tinggi dan menyebabkan suhu permukaan bumi semakin panas. Karena suhu yang hangat, rumah kaca untuk tanaman jarang untuk tanaman jarang digunakan di Indonesia sehingga mungkin istliah ‘efek rumah kaca’ cenderung asing. Proses yang terjadi di dalam rumah kaca mirip dengan apa yang terjadi di dalam sebuah mobil yang diparkir di luar saat matahari sedang terik. Panas matahari mask ke dalam mobil, kemudian panas tersebut tertahan di dalam sehingga membuat suhu di dalam mobil menjadi panas. Animasi efek rumah kaca dan informasi menarik dari BBC silakan klik disini.

April 7, 2009 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: